Memori

Cinta itu egois, sayangku Dia tak akan mau berbagi.Dan seringnya, cinta bisa berubah jadi sesuatu yang jahat Menyuruhmu berdusta, berkhianat, melepas hal terbaik dalam hidupmu Kau tidak tahu sebesar apa taruhan yang sedang kau pasang atas nama cinta Kau tidak tahu kebahagiaan siapa saja yang sedang berada di ujung tanduk saat ini.Kau buta dan tuli karena cinta Kau pikCinta itu egois, sayangku Dia tak akan mau berbagi.Dan seringnya, cinta bisa berubah jadi sesuatu yang jahat Menyuruhmu berdusta, berkhianat, melepas hal terbaik dalam hidupmu Kau tidak tahu sebesar apa taruhan yang sedang kau pasang atas nama cinta Kau tidak tahu kebahagiaan siapa saja yang sedang berada di ujung tanduk saat ini.Kau buta dan tuli karena cinta Kau pikir kau bisa dibuatnya bahagia selamanya Harusnya kau ingat, tak pernah ada yang abadi di dunia cinta juga tidak Sebelum kau berhasil mencegah, semua yang kau miliki terlepas dari genggaman.Kau pun terpuruk sendiri, menangisi cinta yang akhirnya memutuskan pergi.
Memori Cinta itu egois sayangku Dia tak akan mau berbagi Dan seringnya cinta bisa berubah jadi sesuatu yang jahat Menyuruhmu berdusta berkhianat melepas hal terbaik dalam hidupmu Kau tidak tahu sebesar a

  • Title: Memori
  • Author: Windry Ramadhina
  • ISBN: 9789797805623
  • Page: 488
  • Format: Paperback
  • 1 thought on “Memori”

    1. Saya adalah penggemar Windry sejak sama-sama menulis di komunitas Kemudian. Bagi saya, tulisan Windry lugas dan no-nonsense, tanpa basa-basi dan apa adanya. Hampir tidak ada bagian yang bertele-tele, penjelasan berlebihan, dan dialog yang tidak masuk akal. Saya mengagumi itu dari Windry.Setelah sekian lama vakum, Memori terbit. Saya sempat membaca sedikit petikan babnya di blog Windry, namun belum benar-benar menyukai dan mengenal Mahoni, sang karakter utama. Kemudian saya pun mulai membaca dari [...]

    2. Saya ingat sekali, pertama kali kenal dengan karya Windry Ramadhina ketika saya sedang liburan di Jogja dan seperti biasa, saya suka mengunjungi toko buku di sana, salah satunya Toga Mas, siapa tahu mendapatkan buku yang tidak ada di kota Solo yang seringnya tidak lengkap. Saya lupa tepatnya tahun berapa, yang jelas waktu itu saya iseng mencomot buku Orange, di mana mungkin sedikit buku terbitan Gagas yang masih bersisa di toko buku yang selalu diskon itu. Kadang saya memilih buku untuk dibawa p [...]

    3. Ternyata sampai akhir saya tidak bisa peduli pada tokoh-tokohnya."Memori" bercerita tentang Mahoni, seorang wanita yang bekerja sebagai arsitek di Virginia. Kematian ayahnya membuat Mahoni harus kembali pulang ke Indonesia. Awalnya dia hanya akan pergi selama beberapa hari, tapi suatu hal membuatnya harus tinggal lebih lama dari itu.Saat sedang berusaha untuk menyesuaikan diri dengan ritme hidupnya yang baru, Mahoni bertemu kembali dengan Simon, teman masa kuliah yang memiliki tempat khusus di h [...]

    4. Saya tidak salah. Selama ini saya membaca karya penulis yang, meskipun memang amat rapi juga mengandung diksi yang cantik, ada saja sesuatu yang masih saya cari.Dan, di buku ini, saya menemukannya.Ada sesuatu yang mengalir, mentah, dan mengundang di Memori ini. Itu yang membuat saya betah membacanya. Selain kemasannya--desain sampul, judul, tagline dan blurb--jadi yang paling saya suka dari buku beliau yang lain, ia juga mematahkan asumsi saya, bahwa penulis senang melibatkan hal yang populer da [...]

    5. CAN'T PUT IT DOWN! *_* This novel is written by a very talented author to the core :'D. First line-nya saja sudah berhasil menghipnotis saya, dan setiap kali ada jeda, saya selalu menyempatkan untuk membacanya (saat perjalanan pulang, di ruang tunggu dokter, sebelum film dimulai di bioskop, sebelum tidur, dsb). Saya menyelesaikan novel ini dalam waktu kira-kira seminggu, berusaha fokus pada setiap kata dan kalimatnya, karena sayang sekali bila ada satu saja yang terlewat.Oklai dari manakah? Feel [...]

    6. I. Rumah, Detail, dan Dunia ArsitekturBerbeda dengan dua novel Windry sebelumnya, Orange dan Metropolis, di Memori, Windry menulis deskripsi dengan begitu detail. Di Orange dan Metropolis juga, tapi di Memori, jauh lebih detail lagi. Mengapa saya membahas Memori dengan membawa-bawa Orange dan Metropolis? Tidak ada alasan khusus sih, mungkin saya ingin menunjukkan kepada yang membaca tulisan ini bahwa, kalian juga harus membaca dua novel Windry yang lain. Oke, lanjut.Di Memori, Windry menggambark [...]

    7. Harus kuakui, ekspektasiku cukup tinggi ketika tahu bahwa tokoh utamanya adalah seorang arsitek, profesi yang kugeluti selama 10 tahun ini. Dan pengen tahu aja, apakah Windry menggambarkan arsitek sebagai seseorang yang hidupnya menyenangkan, hanya menggambar-gambar, berkhayal, dapat duit, seperti yang sering dideskripsikan selintas lalu dalam novel-novel lain (atau sempat main piano sambil Arisan!), atau arsitek yang menderita bahagia sepertiku (haha pengakuan suffer in happiness) yang sering k [...]

    8. Sebenarnya saya sudah punya buku fisik dari novel Memori karya Windry ini, tapi yaaa you know me lah, ya, saya pan penimbun buku sejati. Beli iya, baca entah kapan, hehehe. Berhubung saya biasanya suka cepet dan sempet baca di perjalanan maka pas banget waktu Gagas Media ngerayain ultahnya Juli kemarin, Gagas berbagi kebahagiaan dengan membagi-gratis e-book novel ini di Playstore, dan saya pun tak menyia-nyiakan kesempatan. Saya unduh e-book-nya dan berhasil saya rampungkan-baca selama musim lib [...]

    9. "Damar adalah kayu kesukaan Papa; bukan jati, nyatoh, atau sungkai; bukan pula Mahoni."Suka banget sama konfliknya.Pertama, ngerasain banget gimana perasaannya Mahoni waktu disuruh ngejaga Sigi ("Damar") karena Papanya meninggal. Ngerasain juga gimana bencinya Mahoni sama Papanya, sama Grace. Dan, gimana nggak sukanya Mahoni sama Sigi.Waktu Sigi pingsan, aku mulai suka sama karakter Sigi. Suka banget. Gimana berdukanya dia waktu orangtuanya meninggal, dan tinggal sama Mahoni. Selalu terharu sama [...]

    10. 4.5 dari 5 bintang :) sangat sangat menikmati buku ini, suka bangeeett sama hubungan sepinya simon sama mahoni. ga banyak mungkin adegan romantis disini, tapi beberapa justru malah kerasa sweet&heartwarming bgtrasa disini kalo kak windry ga mau sembarangan nyiptain adegan2, terutama yg romantisnya, dan adegan romantisnya itu akhirnya jadi kerasa "orisinil". oke, ciuman mungkin biasa, tapi sesuatu lain yg dilakuin simon pas nyium mahoni itu ga biasa(gakmau spoiler ah hihi).Makasih buat cerita [...]

    11. "Kompromi tidak akan membunuhmu, Mahoni.Kau tidak akan kehilangan jati dirimu hanya gara-gara mendesain kolam dengan pancuran air bertingkat.""Ya, aku tahu.""Sebaliknya, kau bisa mewujudkan impian seseorang dengan kompromi. Itu sesuatu yang kita lakukan setiap saat tanpa sadar. Di rumah. Dengan keluarga kita.". "Aku tidak punya keluarga, ingat?"Sosok Mahoni dalam buku ini bukanlah sosok yang mudah disukai. Sikap dingin dan berjaraknya terhadap Sigi, anak remaja berusia 16 tahun, adiknya dari aya [...]

    12. "Tidak ada perasaan yang bertahan selamanya. Aku belajar itu dari Papa. Cepat atau lambat, sesuatu yang kita miliki akan hilang dan yang tertinggal kemudian cuma rasa benci."-------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------- "Seringkali aku tidak bisa memahami segala sesuatu yang terjadi dalam hidupku. Kepingan-kepingan peristiwa yang membentuk aku dan memengaruhi keputusan-keutusan yang telah aku buat.Perpisahan [...]

    13. Entahlah apa yang harus saya katakan tentang novel karya mbak Windry ini. Ini benar-benar luar biasa. Menemani hari-hari dalam puasa tahun ini, membuat saya lupa waktu berbuka puasa hampir tiba. Konflik yang simple tapi dikemas dengan sangat menarik. Karakter tokoh yang real dan dalam berpengaruh dengan jalan cerita yang menyentuh. Apalagi hubungan persaudaraan antara Mahoni-Sigi seperti merefleksikan hubungan saya dengan kakak saya yang tidak begitu dekat, bedanya Mahoni-Sigi adalah saudara tir [...]

    14. Setelah membaca novel ini. saya bisa bilang Windry Ramadhina akan menjadi salah satu novelis favoritku. Karena sejak pertama kali membaca Orange, Metropolis dan terakhir Memori, saya suka dengan gayanya bercerita.Konflik para tokoh, alur, detail kecil yang diperhatikan semua membuat saya cukup terkesan. Novel ini seperti berpetualang ke masa lalu, kita diajak untuk bersama Mahoni mengenang masa lalunya bersama keluarganya, terutama ayahnya dan proses memaafkan semua yang terjadi di masa lalu. Pe [...]

    15. Catatan Pembaca1. Kebetulan saya tidak menunggu kedatangan Windry kembali karena baik Orange ataupun Metropolis belum ada yang pernah saya sentuh. Maka, penilaian saya kali ini berdasarkan apa yang saya baca pada karya Windry untuk kali ini.2. Saya sempat membaca tulisan-tulisan Windry saat saya masih (agak) aktif di Kemudian -berikutnya saya lenyap hingga kini karena saya lupa kata sandinya, hahaha- Tapi memang seperti itulah gaya penulisan Windry yang ada di dalam Memori tidak jauh berbeda den [...]

    16. Ini bukan jenis karya yang bisa merebut gelar "luar biasa" dari lidahku.Tapi anehnya, saya menangisi adegan Mahoni menatap foto wisudanya bersama papanya. Bersedih untuk Mahoni yang bertanya-tanya tentang makna pertemuannya kembali dengan Simon. Takjub dengan interaksi Mahoni-Sigi.Memori, ditulis dengan kelincahan menawan dalam deskripsi latar, detil emosi, dan karakterisasinya. Disajikan dengan sudut pandang pertama tunggal, menjadikan cerita ini memiliki tantangannya sendiri. Windry Ramadhina [...]

    17. Ini salah satu novel yang bisa bikin saya membacanya berulang-ulang. Entah kenapa, saya suka kisahnya. Sebenarnya temanya sederhana, tetapi Windry mengemasnya dengan emosi yang pas untuk setiap tokohnya.Saya suka emosi Mahoni dan ibunya, Mae. Windry menaruh emosi pahit itu dengan sangat 'hidup.' Saya merinding kagum.Kok bisa ya, Windry membuat plot yang begitu rapi dengan emosi yang tertata apik dan konsisten dari awal hingga akhir cerita? Saya sudah tanya tips-nya ke Windry. Minta dia berbagi p [...]

    18. Pada awalnya, saya tidak bisa menikmati tulisan Windry Ramadhina karena banyaknya detail tentang arsitektur dan deskripsi yang harus saya cerna. Dalam beberapa bagian awal saya pun merasa selalu tertinggal, sehingga misalnya ketika saya baca paragraf dua saya belum bisa menangkap apa yang sebenarnya terjadi dan kembali ke paragraf pertama. Tetapi lama-kelamaan saya tidak harus struggle lagi ketika membaca Memori, saya mulai larut dalam kisahnya. Saya sangat menyukai ide Windry Ramadhina yang men [...]

    19. Saya jatuh cinta sama tulisan Kak Windry setelah baca Orange. Dan membaca Memori membuat saya kayaknya makin dalem, nih xDPuas, baca buku ini bikin saya merasa puas. Semuanya berakhir dengan baik memuaskan xDSaya suka semua tokoh yang ada di buku ini keliatan banget Windry mengenali semua karakternya sampai yang kecil-kecil kayak Neri sekalipun. Jadi kalau ditanya siapa karakter favorit saya saya bingung jawabnya. Sampai Mae yang kayak gitu aja saya suka.Tapi karakter yang paling membuat saya ka [...]

    20. membaca naskah windry, selalu membuat saya iri. cara bertuturnya tak pernah berlebihan, pas dan tepat. deskripsinya selalu detail, saya seakan-akan melihat apa pun yang sedang dideskripsikannya.dalam Memori, saya suka Sigi. menunggu-nunggu saat alur kembali menyinggung dia. :)Windry,dengan segala riset di balik proses menulisnya, mampu menghadirkan cerita yang "takcumacuma".teruslah menulis Windry, aku menjadi salah satu orang yang akan selalu menunggu hasil karyamu :)

    21. Ada banyak kata baku yang bisa saya simpan di bank ide saya setelah membaca buku ini. Mungkin bisa dijadikan bahan dalam mata kuliah leksikografi dalam tema bangunan rumah dan arsitek. Sungguh membuka mata saya dan wawasan setelah membaca buku ini. Temanya juga sangat baik, plotnya rapi, dan gaya tulisan Windry yang sedikit gelap dan sendu menambah daya tarik saya selama membaca buku ini.

    22. Review on my blog: kandangbaca/2015/03/meMahoni adalah seorang arsitek muda yang tengah giat meniti karir di Virginia, Amerika Serikat. Ada alasan khusus yang membuatnya meniti karir di luar negeri alih-alih di tanah kelahirannya sendiri. Sebuah luka masa lalu yang disebabkan oleh sang ayah yang lebih memilih meninggalkan dirinya dan sang ibu demi seorang perempuan bernama Grace, membuat Mahoni menjadi pribadi yang keras. Sebagai seorang arsitek, Mahoni memiliki pendirian yang teguh serta sangat [...]

    23. Pertama kali mengenal karya Windry lewat Orange dan Metropolis (thanks to Sulis @peri_hutan), saya langsung suka dengan gaya menulis Windry. Dua novel tersebut punya nuansa yang berbeda. Yang satu dengan fotografi, dan yang kedua dengan nuansa mafia. Kali ini Windry menyajikan nuansa arsitektur dalam novel terbarunya. Buat yang tidak mengerti tentang dunia arsitek tidak perlu kuatir, karena Windry menceritakan dengan sangat ahli. Wajar saja, mengingat Windry sendiri adalah seorang arsitek.Mahoni [...]

    24. Ah, Mae, dunia tidak sekelam yang kau perlihatkan kepadakuBercerita tentang seorang gadis bernama Mahoni, sekilas mendengar namanya kita pasti diingatkan pada Kayu. Dia seorang arsitek yang bekerja di Virginia dengan partner kerjanya bernama Ron, yang ada bule nan perayu suka memanggilnya dengan nama Honey bukan Honi ataupun Mahoni. Romantic Home yang ditawarkan pada sepasang suami isteri ditolak mentah-mentah dan menginginkan desain yang biasa-biasa saja. Padahal Romantic Home adalah ide yang s [...]

    25. Bingung mau bikin review apa karena sejauh ini nggak ada karya Windry Ramadhina yang mengecewakan. Bahasanya formal namun benar-benar mengalir. Plotnya sederhana namun nggak membosankan. Karakter Mahoni walau sering nyebelin karena idealismenya yang terlalu tinggi tapi jatuhnya tetap likeable. Karakter Simon cool tapi nggak sok cool. Kisah cintanya nggak cheesy. Galaunya juga nggak terlalu berlebih. Entah mengapa semuanya serba pas. Salut!

    26. Suka banget! Pertama kali baca karya Kak Windry rasanya so-so aja karena bahasanya terkesan agak dipaksakan biar quoteable. Tapi yang ini beda. Suka dengan konfliknya yang kompleks tapi nggak biasa. Suka dengan karakter sampingannya yang humanis tapi tetap manis. Suka dengan bahasanya yang mengalir indah tanpa terkesan 'quotable paksa'. Suka dengan risetnya yang mendalam tentang arsitektur. Suka dengan emosi tersirat di balik dialognya. Suka dengan kesan akhirnya yang bikin haru tanpa harus keba [...]

    27. Mahoni, namamu begitu tak asing bagiku. Sepertinya aku pernah mempelajarimu sewaktu masih di bangku sekolah dasar. Oleh karena keingintahuanku, dengan isengnya aku mengoogle namamu, mencari tahu apa arti dari namamu. Kau adalah tanaman pelindung. Pohon besar yang tumbuh tinggi dan tumbuh liar di hutan jati dan tempat lainnya yang berdekatan dengan pantai.Kau tahu apa kehebatanmu? Kau mampu bertahan dengan sangat baik terhadap kuatnya sinar matahari, menandakan bahwa kau tidak mudah terintimidasi [...]

    28. "Untuk mereka yang merindukan rumah-tempat berbagi cinta, kenangan, dan tawa yang tidak pernah pudar."Hhhmmm. Kalimat pembuka yang langsung (meminjam istilah seorang teman) menusuk jantung tembus ke hati saya. Adalah salah besar ketika saya membaca buku ini dalam bulan puasa dan berharap bisa berkumpul bersama keluarga untuk setidaknya sekali saja berbuka puasa dan sahur bersama. Buku ini kembali membuat saya terpaksa gigit jari karena keinginan itu hanya akan menjadi harapan yang tak terwujud. [...]

    Leave a Reply

    Your email address will not be published. Required fields are marked *