Seekor Bebek yang Mati di Pinggir Kali: kumpulan cerpen

Adalah kumpulan cerpen terbaru Puthut EA Buku ini berisi cerpen cerpen memesona dari fragmentasi gempa bumi yang meluluhlantakkan tanah, rumah rumah dan hubungan hubungan keluarga.Peristiwa peristiwa politik berakhir seiring lenyapnya desa desa dan orang orang secara misterius Anak anak ditinggalkan dan harus bertahan hidup sendiri di usia dini Kekerasan juga masih hadAdalah kumpulan cerpen terbaru Puthut EA Buku ini berisi cerpen cerpen memesona dari fragmentasi gempa bumi yang meluluhlantakkan tanah, rumah rumah dan hubungan hubungan keluarga.Peristiwa peristiwa politik berakhir seiring lenyapnya desa desa dan orang orang secara misterius Anak anak ditinggalkan dan harus bertahan hidup sendiri di usia dini Kekerasan juga masih hadir di sana, tersembunyi, namun tiba tiba bisa begitu saja terlihat, muncul di tengah tengah kehidupan sehari hari Cerpen cerpen indah dan menarik ini sangat puitis, detail, dan merakyat, menyuguhkan kepada pembaca sebuah kenyataan hidup yang sebenarnya Di sana, misteri bercampur seperti resep masakan.
Seekor Bebek yang Mati di Pinggir Kali kumpulan cerpen Adalah kumpulan cerpen terbaru Puthut EA Buku ini berisi cerpen cerpen memesona dari fragmentasi gempa bumi yang meluluhlantakkan tanah rumah rumah dan hubungan hubungan keluarga Peristiwa peristiwa

  • Title: Seekor Bebek yang Mati di Pinggir Kali: kumpulan cerpen
  • Author: Puthut EA
  • ISBN: 9786028384209
  • Page: 152
  • Format: Paperback
  • 1 thought on “Seekor Bebek yang Mati di Pinggir Kali: kumpulan cerpen”

    1. Pada aku, kehebatan buku ini terletak pada monolog. Kesemua isinya adalah menolog. Dalamnya dipenuhi kata “aku” dan “kami”. Aku akan menjadi “aku” dan sebahagian daripada “kami”. Aku jadi seorang pendengar, seorang kawan, seorang ibu, seorang pianis bahkan seorang yang mahu merasakan Koh Su yang benar-benar Koh Su. Bagai aku sendiri yang jalankan semua yang tertulis dalam buku ini.Cerpen yang aku paling gemar adalah Obrolan Sederhana. Dua orang yang tidak dikenali berbicara denga [...]

    2. "Seorang perempuan tepat di samping selku, bercerita lebih mengiris lagi. Di tahanannya yang lama, ketika ia sudah tidak kuat lagi disiksa, ia menuliskan alamat rumahnya. Dan alamat yang ditulisnya asal saja. Beberapa saat kemudian, seorang anak dibawa masuk dengan muka sudah babak-belur. Perempuan itu dipanggil, disuruh melihat aak itu dan diminta menyatakan bahwa anak itu bersalah. Ia menangis sejadi-jadinya, mempertahankan bahwa anak itu tidak bersalah"- Anak-anak yang terampasBuku Puthut EA [...]

    3. ** Books 147 - 2016 **3,7 dari 5 bintang! Sekali lagi saya dibuat terpana dengan karya Puthut EA setelah sebelumnya membaca Menanam Padi di Langit yang menurut saya lebih berat dan dalam kajian pembahasannya. Buku kumpulan cerpen ini berisikan 15 buah kisah yang mengambil tema tentang tragedi 1965, komunis dan PKI, Gerwani, Pramoedya Ananta Toer yang menarik untuk diikuti. Saya menyukai konsep dimana semua sudut pandang digunakan melalui kacamata "Aku" entah bisa Aku ini berupa orang dewasa, ana [...]

    4. Sesungguhnya saya tidak tahu siapa itu Puthut EA, mendengar namanya pun belum. Semenjak bergabung Klub Buku Tangerang dengan teman-teman yang memiliki beragam jenis buku favorit, saya dipaksa membaca karya Puthut EA oleh salah seorang kawan. Katanya, penulis ini lebih dahsyat dari Eka Kurniawan. Dia juga bilang, supaya bacaan saya tidak melulu fantasi dan terjemahan.Seusai membaca ini, yang merupakan kumpulan cerpen, saya mungkin setuju dengan pendapatnya di atas. Tidak ada romens sama sekali pa [...]

    5. Apakah Puthut EA hendak bercerita fabel? Tidak, ia tidak menceritakan dunia binatang layaknya cerita yang disuguhkan untuk anak-anak sebagai pengantar tidur. Tetapi, melalui bebek, Puthut EA benar-benar ingin mencari keadilan melalui kisah-kisah dalam cerita pendeknya. Bebek dan keadilan, apa ada relevansinya dalam menyuarakan masalah-masalah yang sekarang mulai langka tersebut? apakah ini cerita hanya akan mirip dengan cerita-cerita kartun semacam kungfu panda dan kartun-kartun binatang yang la [...]

    6. Mengusik hati dan pikiran. Barangkali kalimat itu yang bisa menggambarkan perasaan saya saat membaca kumpulan cerita pendek ini.Awalnya, saya tertarik membaca karya-karya Puthut EA lebih lanjut setelah membaca beberapa cerpennya di Facebook yang ia beri tagar #BelajarMenulisCerpen. Dalam cerpen-cerpennya di Facebook itu, saya menangkap kesan yang sederhana, unik (pemilihan tema dan ceritanya jarang sekali dipilih penulis lain), tetapi tetap memberikan kejutan di bagian akhir.Jujur saja, saya ber [...]

    7. Mas Puthut telah menampilkan suatu kumpulan cerita yang berbeda dengan kebanyakan yang saya jumpai dari penulis-penulis lain. Cerita-cerita pada masa orde baru yang ditandai dengan bermunculannya para penembak misterius, kekerasan terhadap tahanan perempuan, anak-anak yang terpaksa kehilangan orang yang mereka cintai, sedikit-banyak membuka wawasan saya pada masa-masa kelam yang pernah terjadi di negeri ini. Saya merinding sekaligus sedih membacanya. Saya seperti menyusuri jejak sejarah, namun d [...]

    8. Saya baca buku ini sekitar setengah tahun lalu. Ini adalah Buku Kumcer Puthut EA Pertama yang saya baca, setelah sebelumnya hanya bisa membaca karya-karya beliau lewat internet. Bagi saya, buku ini sangat maestro, isinya cerpen-cerpen tajam khas Puthut EA, Ya, Tajam, sungguhpun ada beberapa yang temanya romansa. Beberapa judul Legendaris seperti Koh Su, Berburu Beruang, serta Sambal Keluarga tampil apik di buku ini.

    9. Ini buku kumcer Puthut keempat yang sudah saya baca. Gaya menulisnya yang halus dan telaten memaksa kita membaca hingga paragraf terakhir yang penuh kejutan.

    10. Kalau diibaratkan tubuh manusia, buku ini akan penuh luka codet atau sayatan. Isinya 15 cerpen tentang perjuangan di era komunis dan era rezim rakus kekuasaan. Dan ketika menceritakan perjuangan, pasti selalu menumbuhkan luka. Saya beberapa kali sempat berhenti membaca dan memutuskan untuk tidak meneruskan membaca, karena isinya gelap sekali. Terlalu suram untuk dibaca di zaman ini. Tapi, justru di satu sisi, gelapnya cerpen inilah yang menguatkan. Mengingatkan orang-orang untuk terus melawan ke [...]

    11. Bagaimana bisa saya baru mengetahui kumpulan cerpen yang sangat bagus ini setelah bukunya dicetak ulang pada tahun 2017? Itupun menemukan secara tidak sengaja ketika jalan2 di toko buku.Cerpen2nya ditulis dengan bahasa yang sederhana, ringkas, namun dapat menggambarkan kekelaman sejarah Indonesia maupun kehidupan manusia biasa dengan sangat baik; menghantui dan mengganggu ketenteraman pembaca. Unforgettable stories!

    12. Setelah sebelumnya membaca karya Puthut EA hanya lewat internet akhirnya berkesempatanlah saya membaca bukunya. Sederhana, ringan namun tetap tajam dan menggelitik nalar. Setting cerita diambil dari kehidupan sehari-hari dengan rentang tema tentang tragedi 1965, komunis dan PKI, Gerwani, Pramoedya Ananta Toer yang menarik untuk diikuti.

    13. Untuk seorang saya yang selalu merasa kurang afdol kalau baca kumpulan cerpen, kumcer ini super duper wow! Pas di saat saya mulai merasa jenuh dengan cerita cinta melulu, saya menemukan buku ini yang seakan menceritakan ketidakadilan sejarah dengan cara yang lebih mudah dicerna. Ini buku karya Puthut pertama saya, dan saya sukses jatuh cinta!

    14. I can’t make up my mind if i like this book or not. But i do like 1 of the story in book a lot, the one titled : Di Sini Dingin Sekali . The story makes me feel the cold and the ending makes me speachless

    15. Nama Puthut EA sebenarnya sudah tak asing untuk saya. Beberapa kali namanya muncul sebagai pengarang dari artikel Mojok yang saya baca; dan M. Aan Mansyur pun beberapa kali mencetuskan Puthut lewat akun Twitter @hurufkecil.Motif awal saya membeli buku ini, tentu karena cuitan Aan. Saya selalu percaya, sastrawan bagus tak akan merekomendasikan penempa kata lain yang kualitasnya buruk. Begitu saya melihat satu kopi Seekor Bebek yang Mati di Pinggir Kali ini tergeletak di salah satu pojok bawah rak [...]

    16. ada yang mengatakan, "ketika kritik kepada pemerintah sudah tidak didengar, maka saat itulah sastra berbicara". menurut saya itu memanglah benar, salah satu fungsi karya sastra adalah sebagai pegingat, dan juga penggugah kesadaran untuk menolak lupa pada apa yang telah terjadi di sekitar. dalam buku kumpulan cerpen puthut mennyodorka berbagai macam isu yang penting sekaligus genting di negara ini. tentang ketidakadilan dan kesewenang-wenangan yg terjadi pada periode paling kontroversial di neger [...]

    17. Who doesn't love short story?It's short, yet complex, and at the end it surprises you.But not all short story can make it that far.This short story collection is one of them.The writing is "easy" on "hard" issue; which really hard to amongst Indonesian author. You know to make them feel "intellectual".The issues in this collection are in one big theme. Communism in Indonesia always gets discovered by Indonesian author. Kinda tired hearing it all over again. But this author takes different perspe [...]

    18. Aku pergi ke posko anak. Di sana sepi sekali. Akhirnya aku memutuskan untuk tidur di sana. Tetapi baru saja mendekati posko anak itu, aku mendengar suara-suara aneh. Suara dengan napas, rintihan dan kecipak mulut. Pelan aku mengintip ke dalam ruangan. Dalam temaram malam, aku melihat dua orang, sedang bertengkar dan saling menggigit. Aku takut sekali. Mbak Dane dan Mas Gandung sedang bertengkar dan saling menggigit. Aku lalu berlari menjauhi posko anak.- Di Sini Dingin Sekali, hal. 684.5sangat m [...]

    19. Baru kali ini baca cerpen penulis. Skor aslinya 3.5 bintang, bukan karena apa, tapi lebih ke ceritanya banyak yang gelap. Tipe-tipe gelap yang berhubungan sama sejarah kelam Indonesia, yang serius beberapa cerpen bikin saya ngilu bacanya."Seekor Bebek yang Mati di Pinggir Kali" pun punya latar sejarah, cuma ceritanya sendiri nggak terlalu berat. Walau akhirnya bikin kaget juga. Cerpen-cerpen selanjutnya pun biasa saja, ada unsur sejarah, kritik sosial di sana-sini, tapi nggak sampai bikin ngilu [...]

    20. Sakau bener baca cerpen2 disini. Selesai satu, lanjut ke berikutnya, berikutnya, terus begitu. Ketika cerpen habis, yah, habis. Kapan lagi saya nemu cerpen dengan kekuatan cerita dari awal hingga akhir? Membaca sambil mesem2, terus miris, tepuk2 dada, dan berakhir ingin membanting buku karena saya masih mau lagi,tapi persediaan sudah habisPuthut EA menunjukkan bahwa cerpen sastra itu tak perlu diksi susah, open ending yang bikin ngomong sendiri, "Eh, maksudnya?" Hahaha Nasib otak teflon begini i [...]

    21. Seekor Bebek yang Mati di Pinggir Kali | Puthut EA | xvi + 180 halaman | cet. kedua, Februari 2016 | Buku MojokSaya merasakan kesedihan maupun kepedihan pada kelima belas cerpen di buku ini. Cerita yang dituturkan mampu mengusik hati dan pikiran serta menuntun pada perenungan.Beragam tema tentang realitas sosial diceritakan dengan sederhana, tidak rumit, dan mudah dicerna. Mulai dari kisah anak seorang komunis, korban peristiwa 1965, ahmadiyah, anggota gerwani, hingga tentang percakapan dua oran [...]

    22. dari sejak membaca cerpen pertama, kedua, ketiga tanpa sadar ke selanjutnya, aku dengan tidak sabaran menunggu akhiran cerita. ending-ending dalam cerpen di buku ini, kerap membuat aku berpikir bahwa apa yang hendak disampaikan tiap karakter "aku" sebenarnya hanya sederhana, tapi penuangan penulisnya yang tidak biasa. kerenberapa kisah berhasil meledakkan ingatan-ingatanku tentang sejarah gelap bangsa ini. bagaimana sebuah doktrin telah tertanam di otak, membuat aku gagal mengusir kengerian yang [...]

    23. Ini pertama kalinya gw baca karya Puthut EA setelah beberapa kali 'hanya' membaca kumcer suntingan beliau. Pantaslah buku ini digadang-gadang sebagai karya terbaik beliau karena cerpennya makin ke belakang makin keren. Tema yg diangkat juga macam-macam, membuat kita nggak melulu terpaku pada satu-dua tema saja. Uniknya, semua cerpen di sini menggunakan POV orang pertama, jadi si "aku" bisa menjadi apa saja di sini. Kumcer yg terlalu menarik untuk dilewatkan :)

    24. Perlu waktu yang tidak sebentar bagi saya untuk menyelesaikan membaca buku ini. Sekumpulan kisah-kisah gelap tentang kekerasan, ketidakadilan, pelecehan seksual, serta kondisi politik yang penuh intrik. Setiap kali selesai membaca satu cerpen, saya perlu berhenti sejenak untuk sekadar menenangkan diri. :"

    25. Satu lagi pembuktian bahwa sastra yang sederhana justru lebih mampu menjelaskan fenomena paling ruwet dan ribet. Tidak perlu terlalu banyak "aksesoris", tapi "isi"nya yang harus menjadi fokus utama. Puthut EA, tolong telurkan lagi karya-karya berikutnya ~

    26. entah kenapa saya lebih menikmati cerpen-cerpen yang belum dipublikasikan, dibanding yang sudah. lebih mengalir dengan tema yang sederhana.

    Leave a Reply

    Your email address will not be published. Required fields are marked *